Wednesday, August 11, 2010

Melihat dan Merasakan Hujan

Sore ini saya sedang melihat ke depan jendela kamar (pengen buka jendela tapi dingin), melihat titik-titik hujan, sepinya jalan dan beberapa orang lewat, ditemani lantunan musik. Kalau melihat apa yang terlihat sekarang, rasanya damai. Suara rintik hujan berirama membuat suasana hati tenang, karena hujannya kecil. Tapi coba kalau saya sedang berada di tengah jalan, mungkin saya mengeluh, "Duh, hujan berhenti dong!" Berhubung di situasi yang tepat, maka saya bisa bilang kalau hujan ini malah membuat hati damai bukannya kesal.

Berada di situasi yang tepat selalu bisa membuat kita merasa tenang, damai, tenteram, senang. Tapi apa kabar kalau kita dihadapkan pada situasi yang ga tepat? Pasti akhirnya sebal, kecewa, bete, marah, capek, sedih dsb yang aneh dan ga enak. Mungkin bisa dikatakan juga kalau sebenernya bukan situasinya yang tidak tepat, tapi apa yang dihadapi tidak sesuai dengan ekspektasi, jadi mengecewakan.

Begitulah kira-kira situasi yang saya rasakan beberapa waktu lalu. Situasi di mana apa yang dihadapi tidak sesuai harapan, semua jadi berasa salah. Tapi apakah kalau yang dirasakan itu tidak sesuai harapan berarti benar-benar tidak ada harapan sama sekali?

Tentunya tidak, karena tergantung dari mana kita melihat dan mengalami 'hujan' itu sendiri; dari 'jendela kamar' atau dari 'tengah jalan'.

Kacamata gitta mencoba melihat situasi dari dua sisi.