Friday, February 12, 2010

Tawa Si Mba'

"Mba.. bukain pintu"
"Mba.. tolong ambilin air dong.."
"Mba, beresin meja.."
"Mba bikinin indomie"

Kalimat-kalimat di atas terasa begitu mudahnya keluar dari mulut gue buat minta tolong sama Mba' di rumah. Pembantu rumah tangga, salah satu kebutuhan untuk jaman sekarang. Rasanya ga bisa ngerjain apa-apa tanpa si Mba, rasanya kurang waktu, jadi ribet, jadi capek kalo ga ada si Mba.

"Duhh tidur mulu nih Mba gue"
"Berisik banget sih nih Pembantu" (mulai kasar)
"Dodol banget Mba guee!!"
"Aduhhh harusnya bukan di situ tempatnya, Mbaaa"

Kira-kira begitulah kalimat-kalimat kalo kesel sama si Mba. Begitu mudahnya keluar dari mulut kalo si Mba salah ngerjain hal yang seharusnya dia kerjakan. Mungkin pernah beberapa kali gue mengeluarkan kata-kata seperti itu. *Maafkan aku, Mba.. :)*

Hari ini, gue bisa melihat ketulusan dari senyum dan tawa Mba gue ketika dia dapet sesuatu. Sesuatu yang tidak besar. Kalau dilihat dari harganya, itu mungkin cuma Rp 35.000,00. Tapi kepuasannya melebihi satu cup Sour Sally.

Jadi ceritanya, tadi nyokap gue menyuruh gue membelikan kaos kembaran buat Mba-Mba di rumah. Nah, terbeli lah sepasang pakaian, atasan dan bawahannya dengan harga total Rp 35.000,00/pasang. Kalau kita lihat, mungkin kita bilang "ih baju mba-mba" atau apa lah. Tapi itu semua benar-benar berarti buat mereka.

Ketika gue melihat kesenangan mereka mendapatkan "hadiah" ini, gue jadi merasa sangat sangat senang bisa menyenangkan mereka. Walaupun belinya ga pake duit gue, tapi gue jadi sangat sangat merasa kalau tawa dan kesenangan mereka ga bisa dinilai dengan uang. Ketulusan mereka untuk melayani, untuk mencoba menyenangkan "majikan"nya, semuanya itu bisa terlihat dari reaksi mereka ketika menerima "hadiah" itu.

Banyak hal yang gue rasa dan pelajari dari situasi menyenangkan ini, terutama dari sifat dan sikap si Mba. Pertama, mendapatkan kesenangan yang memuaskan ga bisa dinilai dengan mata uang. Melihat tawa dan senyuman dari si Mba yang gratis ini bisa memberikan ekstra semangat dan kesenangan lebih. Kedua, pekerjaan yang dilakukan dengan tulus, walaupun banyak salah, kena omel, dsb, akan tetap jadi pekerjaan yang menyenangkan. Hal ini bisa dipelajari dari si Mba yang walaupun kadang kena omel tapi dia tetep menyelesaikan pekerjaannya. Ketiga, sikap melayani dari si Mba yang tak kunjung lelah. Dengan rutinitas pekerjaan yang mungkin kita lihat "begitu-begitu saja" tapi mereka bertahan. Ya, mungkin orang bilang nasib, karena ga sekolah, atau apa lah, tapi kerendahan hati untuk setia sama majikannya, itu yang sangat mengagumkan.

Menghargai setiap pekerjaan, menghargai segala bentuk hal, entah yang berupa materi ataupun tidak, menghargai setiap orang. Sikap menghargai, itu yang bisa gue ambil dari tawa si Mba hari ini.

Kacamata gitta senang melihat tawa si Mba.

Saturday, January 9, 2010

Papalist

What is Papalist? Hehe.. Ini adalah sebuah playlist di dalam laptop saya yang berisi lagu-lagu jadulnya bokap. :D i totally love listening to it!

Jadi, ceritanya tadi gue baru membongkar-bongkar lagi CD2nya bokap dan mengimport lagu-lagunya ke new playlist yang saya beri judul "Papalist" hahaha!

Dari sini, gue jadi kagum dengan bokap, kalau diliat dari koleksi CDnya. Pertama, dia punya lagu dari pop, love song yang mendayu-dayu, rock, metal, alternative, sampe lagu Puji Syukur. Kedua, dia sangat rapih! Menyusun CD2nya, memberi label nomor lalu mencatatnya ke sebuah notebook. *amazed*

Koleksi CD, sebagian kecil dari kehidupan bokap gue. Mungkin kadang gue ngerasa bokap gue basi banget, kurang ini kurang itu, ga kayak bapak2 lainnya, atau gimana, tapi tetep dia lah bokap gue! Dia yang selalu kasi perhatian, kasih sayang dan menjaga keluarga dengan caranya, gue mengaguminya. :)

Kacamata gitta kagum dan bersyukur akan sang papa.

Saturday, January 2, 2010

Melihat Keindahan Langit

Kemarin, di hari pertama 2010, gue mendapatkan kado spesial! Melihat jalan diselimuti langit yang begitu cerah dan indah. Semoga ini pertanda akan 2010 yang akan jadi cerah dan ceria. :D

Begitu bahagianya bisa mengawali hari (walau masih ngantuk-ngantuk) dengan melihat keindahan ciptaan Tuhan yang gue bingung gimana bikinnya. Ya iyalah yaa.. Haha! The Great Designer He is.

Kalau mau flashback ke 2009, memang rasanya agak kurang ceria, dibanding 2008 aja (kalo gue baca blog sendiri) rasanya 2009 bisa dikatakan "my mellow year". Semoga tahun 2010 menjadi "my yellow year"! Yeayy!! Semangat!

Dari memandangi keindahan langit kemarin, gue seperti diingatkan untuk kembali ceria! Kembali melihat keindahan dari segala yang ada di depan mata. Kembali menumbuhkan harapan!

Kacamata gitta melihat keindahan langit yang sangat mencerahkan hatinya!

Thursday, December 31, 2009

Dua Ribu Sembilanku

Banyak hal yang sudah teralami di 2009. Dari susah, sedih, senang, gagal, tertawa, menangis, kesal, puas, dan semuanya jadi sebuah rangkaian cerita yang ajaib ketika aku mengingat kalimat "Terima Kasih Tuhan".

Mengerjakan Tugas Akhir dan mengakhirinya dengan perasaan tidak puas dan kegagalan, cukup menyelimuti 2009. Hasilnya kurang baik. Tapi apa yang bisa disyukuri? Belajar banyak dari kegagalan. Aku merasa gagal, merasa dipenuhi ketakutan, dipenuhi kecemasan, sampai-sampai tidak tahu dengan apa yang dijalani. Kebingungan selalu di kepala. Belajar dari kegagalan ini, mempersiapkanku untuk bisa lebih kuat menjalani kehidupan di masa mendatang. Tuhan selalu baik. Mengajar dengan berbagai cara-Nya.

Kelulusan memang lah hal yang sangat membahagiakan dan memberikan kebanggaan tersendiri, terutama orang tua. Mungkin tidak terlalu membanggakan jika dibandingkan dengan orang-orang yang lebih hebat, tapi mereka tetap bangga terhadap anaknya sendiri. Terimakasih Mama dan Papa untuk kasih sayang dan dampingannya selalu. Mereka yang selalu bisa meluruskan kembali kebingungan akan berbagai hal, masa depan terutama, sehingga aku bisa mencoba mengambil langkah yang terbaik. 

Efek dari kelulusan, dihadapkan pada sebuah dunia yang buram di mataku. Dihadapkan pada banyak pilihan. Tentu dalam proses ini, aku sangat belajar, belajar mendengar, belajar mengambil keputusan, belajar mengambil kesempatan, bersosialisasi dengan lingkungan baru, dsb. Proses yang sangat melelahkan, secara batiniah. Tapi semua itu kembali lagi merupakan cara-Nya. Karena perhatian dan kasih sayang-Nya, Ia tidak lupa mengajarkan anak-Nya.

Di akhir 2009, kisah ini belum berakhir. Proses ini belum berakhir. Saat ini aku masih berada di tengah jalan. Di antara berbagai pilihan. Selalu akan ada masa seperti ini, tetapi dengan selalu juga menggandeng-Nya dalam setiap langkah, aku jadi percaya akan mengambil langkah yang benar.

Proses panjang 2009 terasa begitu cepat, hanya setahun serasa belum melangkah apa-apa, belum mendapat apa-apa. Karena ini semua adalah langkah awal. Masih panjang masa-masa di depan kita yang belum terjalani.

Tapi, di balik itu semua, selalu ada kesenangan di setiap saat. Ketika aku sedih, selalu ada teman-teman yang menemani, mau mendengarkan, memberi masukan. Selalu ada orang tua yang mendukung. Saudara-saudara yang menghibur.

Begitu banyak orang-orang yang mewarnai kehidupanku dan membuatku merasa Tuhan nyata hadir di hidupku oleh canda tawa dan perhatian mereka.

Kacamata gitta mensyukuri 2009nya. Berterimakasih untuk semua! Keluarga, teman, sahabat, orang-orang yang mewarnai kehidupannya.

Sunday, December 13, 2009

Senang Sedih Syukur

Wuah. Hari ini kembali diingatkan dengan bersukaria dan bersyukur. Saya jadi berpikir ke mana-mana. Ke hidup sendiri tentunya. :)

Belakangan, emang entah kenapa perasaan lagi suka campur aduk, kadang seneng, tapi gampang mellow, entar gampang terharu, entar biasa aja, seneng lagi, sedih lagi. Dan setelah dipikir, ditelusuri dan direnungkan, ternyata itu bukan pms. Haha. 

Begitulah hidup, ada naik dan turun. Bagaimana kita bisa mensyukuri saat sedang di atas dan sadar akan dampingan-Nya sampai bisa di atas, begitu juga saat di bawah, bagaimana kita bisa mensyukuri (walau sulit) benar-benar mensyukuri saat kita sedang jatuh. 

Sedih, syukur dan sukacita. Kira-kira begitu formulanya.

sedih + bersyukur = sukacita

sukacita + bersyukur = sukacita

Masalahnya, kadang lupa sama formula ini. Mungkin kita suka ngerasa "baik-baik saja". Di mana posisi merasa "baik-baik saja" inilah posisi di mana terkadang kita lupa akan formula itu.

Terimakasih untuk hari ini. Untuk Misa Adven Minggu ketiga (Haa tak sabar Natal! :D) yang mengingatkan saya untuk bersyukur. 

Terimakasih untuk suka duka, sedih senang yang selama ini terasa.

Terimakasih untuk kebingungan yang suka bertengger di kepala.

Terimakasih untuk hidup ini.

Terimakasih Tuhan.

Kacamata gitta kembali bersyukur dan merasa lega.

Tuesday, October 13, 2009

Optimis

Waktu berlalu cepat sekali. Sampai bingung ternyata "udah ini udah itu". Harus ini harus itu. Wah! Bingung. Terpana. Bersyukur. Terharu dengan semua yang sudah terlewati ataupun bahkan terlewatkan. :)

Sekarang, saatnya untuk melihat, berpikir, memutuskan dan terus melangkah ke depan. Melangkah dengan pasti. Menjadikan hal-hal yang sudah terlewati sebagai suatu pengalaman dan beberapa hal yang terlewatkan sebagai pelajaran besar. 

Optimis. Sebuah kata kunci untuk membuka pintu-pintu dalam menapaki langkah selanjutnya. Kata kunci yang terkadang sulit untuk terus digenggam tetapi tak boleh dilepas.

Melangkah. Terus melangkah. Menggenggam sang kunci "optimis". Berani mengambil keputusan, dengan dasar apapun yang terjadi adalah belajar. Terus berusaha. Belajar dari salah atau benar. Bersyukur atas segalanya. Mengingat bahwa semua ini adalah milikNya.

Optimis. Maksimal.


Kacamata gitta melihat begitu panjangnya jalan di depan matanya. Optimis.

Thursday, October 1, 2009

September Kosong

-kosong-

hiah.. kenapa ini.. apakah terlalu banyak hal untuk diceritakan? atau tidak ada sama sekali?

Kacamata gitta jadi basi.